Senin, 20 April 2015

Filled Under:

“Ibu adalah Madrasah Pertama Bagi Pendidikan Keluarganya” Belajar dari Ibu Kita Kartini dan Ibunda Yoyoh Yusroh



Hari ini 21 April 2015 Indonesia memperingati hari Kartini yang menjadi sosok Pejuang dan Pahlawan sekaligus sumber inspirasi perempuan Indonesia. Berbicara tentang hari Kartini saya jadi teringat sosok perempuan Indonesia yang memiliki spirit perjuangan, seorang ibu yang menjadi tauladan dalam mendidik putra-putrinya, seorang daiyah yang menjadi panutan masyarakat, seorang tokoh yang telah mengajarkan bagaima berpolitik dengan “CINTA” sekaligus seorang pejuang yang telah mempersembahkan jiwa & raganya untuk agama & negeranya. Beliau adalah Bunda Yoyoh Yusroh, beliau adalah Kartini masa kini yang telah mempersembahkan Cinta, Kerja & Harmoni untuk Indonesia.

Di Hari Kartini ini adalah tepat 69 bulan wafatnya Bunda Yoyoh Yusroh, salah seorang pendiri PKS yang juga pernah mengemban amanah sebagai anggota DPR RI periode 2009-2012. Meski Bunda Yoyoh telah wafat kami masih merasakan kehadiran beliau, masih terngiang-ngiang tausiyah-tausiyahnya, masih tergambar jelas senyum ramahnya meski kami juga masih merasakan kehilangan sosok Kartini masa kini itu. Kematian seseorang yang telah mengukir sejarah hidupnya dengan kebaikan, memenuhi hari-harinya dengan kontribusi kepada sesama, jelas membuat banyak orang kehilangan. Bukan hanya kami yang kehilangan beliau, tetapi seluruh kader PKS. “Bahkan seluruh bangsa Indonesia,” kata Tantowi Yahya di lokasi persemayaman almarhumah saat itu.

Kebiasaan Bunda Yoyoh Yusroh yang suka menolong, meninggalkan rasa kehilangan yang besar dalam jiwa banyak orang. Dan selayaknya, para dai –khususnya daiyah- meneladani sifat itu. Salah seorang yang kehilangan adalah temannya sesama anggota DPR. Meskipun berasal dari fraksi yang berbeda, Yoyoh Yusroh merelakan waktunya untuk menemani dan “mengobati” ibu ini dalam sebuah perjalanan tugas kedinasan. Ketulusannya menjadi sahabat dan merawat selama ibu ini sakit, meninggalkan kesan yang mendalam baginya. 

Bukan hanya ibu ini akhirnya menjadi lebih dekat dengan Bunda Yoyoh seorang, namun ia juga menjadi lebih dekat dengan dakwah. Begitulah. Ketika pesona Islam bertemu dengan pesona muslim, maka orang yang berada di dekatnya akan merasakan betapa indahnya dakwah. Mereka mendapati bahwa dakwah bukan hanya bahasa langit, namun juga kepedulian dan solusi yang membumi.

Bunda Yoyoh Yusroh juga seorang ibu yang luar biasa. Suatu hari ketika ia mengisi sebuah seminar, ia membawa serta anaknya yang kedua belas. Saat itu anaknya masih berjumlah dua belas. Seorang panitia bertanya, “Ini putranya yang terakhir ya, Bu?”. “Bukan”, jawab Bunda Yoyoh, “ini yang kedua belas.” Subhaanallah… ternyata paradigma dan keinginannya menjadi ibu membuatnya tidak membatasi bahwa putra saat ini adalah putra terakhir. Dan benar, setelah itu putra ketiga belas beliau lahir. Berikut putra-putri Bunda Yoyoh :

Anak sulung beliau lahir pada 20 Desember 1985. Diberi nama Ahmad Umar Al-Faruq (alumnus FE UGM).
Anak kedua A Izza Jundana, kuliah di International University, Sarajevo, Bosnia.
Anak ketiga, Asmah Karimah, kuliah di Fakultas Pertanian UGM.
Anak keempat, Huda Robbani lahir Oktober 1990.
Anak kelima, Shalahuddin Al Ayubi, Seperti nama panglima Islam, lahir 13 April 1992.
Anak keenam Jakfar Athoyar (lahir Maret 1993) di Ponpes Gontor.
Anak Ketujuh Salma Salimah lahir April 1994, nyantri di Ponpes Assyifa, Subang Jawa Barat.
Anak Kedelapan Muhammad Ayyasy lahir 13 April 1996 di Ponpes Al Hikmah Jakarta (Hafidz Al Quran 30 juz).
Anak kesembilan Walid Ghazin, lahir Juli 1997.
Anak kesepuluh Adil Gholib lahir September 1998.
Anak kesebelas Abdulah Aminuddin, lahir 16 Januari 2000.
Anak kedua belas Helma Hamimah lahir Juli 2001.
Si bungsu Rahma Rahimah, lahir Januari 2003

Di masa sekarang, banyak ibu yang merasa sangat direpotkan oleh kehadiran anak. Jangankan dua belas atau tiga belas anak, satu atau dua anak saja sudah membuat banyak ibu kewalahan dan hari-harinya penuh keluhan. Bahkan ada juga ibu yang baru melahirkan satu orang anak sudah merasa amat tersiksa lalu ia tidak mau lagi melahirkan untuk yang kedua. “Melahirkannya sakit setengah mati, membesarkannya merepotkan sekali,” itu alasannya. Namun tidak demikian dengan ibu yang satu ini. Bunda Yoyoh Yusroh bukan saja “menikmati” melahirkan buah hatinya, namun juga dengan penuh cinta membesarkan dan mendidik mereka. Tiga belas anak yang tumbuh menjadi shalih-shalihah adalah prestasi besar yang tidak dimiliki oleh sembarang orang.

Sejalan dengan teori itulah kemudian kontribusi Yoyoh Yusroh menjadi “monumental.” Ia bukan memberikan kontribusi yang biasa-biasa saja, namun kontribusi yang membekas di hati banyak orang. Sekaligus diingat dalam rentang waktu yang panjang. Maka tidak heran jika ia mendapatkan banyak penghargaan. Diantaranya adalah International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2000, Mubaligh National dari Departemen Agama Pusat tahun 2001, dan International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2003. Bunda Yoyoh juga memimpin rombongan Viva Palestina dari Indonesia pada tahun 2010 bersama KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina) dan berhasil menembus Gaza yang telah lama diblokade oleh Penjajah zionis israel, beliau juga dinobatkan sebagai Warga Negara Kehormatan Palestina.

Langkah Cinta Hingga Akhir Hayat

Hingga akhir hayatnya Bunda Yoyoh masih mengayunkan Langkah Cintanya, ya Bunda Yoyoh mempersembahkan“Langkah Cinta” terakhirnya untuk keluarganya yaitu untuk menghadiri wisuda putra sulung beliau, Ahmad Umar Al-Faruq di UGM Yogyakarta. Sebenarnya tanda-tanda beliau hendak “pergi” sudah dirasakan oleh orang-orang dekatnya sejak sebulan sebelum beliau wafat, bahkan beberapa hari sebelum beliau wafat, di rumah Ibunda beliau, Tangerang yang sekarang beliau dimakamkan, banyak didatangi segerombolan burung-burung kecil. Insya Allah beliau wafat dalam keadaan Husnulkhatimah. 

Kartini masa kini itu memang telah lama pergi namun semangat juangnya untuk mengharumkan negeri ini menjadi inspirasi bagi para penerusnya saat ini. Semoga penerus-penerus beliau segera hadir melanjutkan “Langkah-Langkah Cintanya, Bekerja Dalam Harmoni Untuk Indonesia” yang telah lebih dulu beliau persembahkan.

Kumpulan Testimoni dari keluarga, kerabat, teman serta para tokoh & kolega Bunda Yoyoh Yusroh bisa dibaca disini :
http://yoyohyusrohtestimoni.wordpress.com/

Mampu melahirkan anak sampai yang ke-13 adalah sebuah perjuangan yang sangat berat, ditambah dengan bekal pendidikan yang baik maka pantaslah kalau beliau dijadikan sosok teladan dalam pendidikan. Sesuai dengan pepatah Arab Al-Ummu Madrosatu ‘Ula “Ibu adalah Madrasah Pertama”, Mari kita terus belajar salah satunya dari Ibu Kita Kartini dengan motonya “Habis Gelap Terbitlah Terang” dan Ibunda Yoyoh Yusroh.


Sumber : @Ponco, Kompasianer

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 MAJALAH INTAJIYAH.