Rabu, 30 September 2015

#ThariqMembaca : SEJARAH‬ ITU PENTING UNTUK PEMBELAJARAN BAGI GENERASI BERIKUTNYA



Opini di koran Kompas hari kemarin (29/09/15) ada dua tulisan ttg PKI, Franz Magnis Suseno dg judul "Membersihkan Dosa Kolektif G30S" (PKI) yang menyoroti tentang reaksi berlebihan pasca tragedi G30S yang ia anggap sebagai pelanggaran HAM berat, dengan adanya penghilangan hak bagi pengikut dan simpatisan PKI.

Dan tulisan dari tokoh ummat Islam KH. Salahuddin Wahid dengan judul "Sikap Warga NU terjadap PKI" ada yang punya pendapat ttg 3 klp warga Nu :
1. Antirekonsiliasi
2. Setuju Relonsiliasi
3. Mereka yang secara sadar mengakui keterlibatan NU dan Militer dalam pelanggaran HAM berat.

Klp ini setuju diadakan proses hukum utk membuka apa yg sebenarnya terjadi, mereka setujua Tap MPRS No.XXV/1966 dicabut, ajaran komunis boleh disebarkan. Mereka meyakini ajaran komunia tidak akan laku walaupun diberi hak untuk didirikan lagi.

Sedangkan di harian lainnya Republika (29/09) opini diisi oleh Sastrawan terkemuka Taufiq Ismail dg judul "Kebiadaban Komunisme" beliau menulis antara lain "Sejarah telah mencatat idiologi ini melakukan pemberontakan/kudeta di 75 negara, negara bagian, pulau, dan kota sepanjang masa 69 tahun (1918-1987) ; berhasil 28, gagal di 47 tempat. Marxisme-Leninisme-Aiditisme-PolPotisme ini mendapat kesempatan berkuasa di dunia selama 74 tahun (1917-1991) di 28 negara.

Lebih lanjut kembali ke REPUBLIKA, Taufiq Ismail menulis "Bagaimana Komunis Gaya Baru di Indonesia? Kita 25 tahun lebih cepat bertindak. Muak dengan tiga kali berontak dan kudeta berdarah (1926, 1948, 1965), PKI dibubarkan dan terlarang pada tahun 1966. Dibandingkan dengan apa yang dilakukan Boris Yeltsin pada 1991, kita 25 tahun lebih sigap bertindak."

Boris Yeltsin membubarkan Partai Komunis Soviet Rusia, sebagai partai Komunus tertua di dunia pada Desember 1991. Dunia gempar. Diumumkan bahwa mereka tidak lagi memakai idiologi itu sebagai asas negara, yang dinyatakan sebagai idiologi bangkrut. Terkait pelanggaran HAM pasca G30S sebagaimana yang selalu diangkat oleh mereka yang simpati dengan PKI, ditulisannya ada "penggelembungan" jumlah korban yang dibesarkan dari sebenarnya menjadi disebutkan jutaan oleh pihak tertentu untuk mengundang simpati kepada PKI.

Setelah tidak ada film seperti dulu, Film dokumenter G30S-PKI yang selalu diputar setiap setahun sekali,
Kira-kira apa yang relevan utk menjaga kewaspadaan ajaran Komunis untuk anak didik kita dan para penerus negeri ini yang terdiri dari tunas bangsa generasi muda saat ini? Agar mereka dimasa yang akan datang bisa terus membangun Indonesia memberi sumbangsih kepada peradaban dunia yang lebih adil, damai dan sejahtera.

Malamnya (29/09) stasiun televisi nasional TV One mengangkat tema yang sama dalam acara spektakuler khas TV One dan pembawa acarannya Karni Ilyas yaitu ILC.

Bahkan beliau mengutip ucapan tokoh yaitu Irman Roof Filusuf Irlandia : "Siapa yang tidak mengetahui sejarah maka ia akan melakukan kesalahan dua kali" Senada dengan itu ucapan Presiden RI pertama yang juga proklamator bangsa Ir. Soekarno "Jasmerah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah", Karni Ilyas ILC TVOne. Link Video ILC : 50 tahun G30 S PKI "Perlukah Jokowi Minta Maaf? =



Semoga Pancasila tetap terjaga dan menjadi perekat semua unsur bangsa untuk membangun Indonesia [DM]

Dimyat @dimyat1 Redaktur Media Intajiyah Online
Follow : @intajiyah FB : Majalah Intajiyah

Rindu Sang Murabbi: Film Biopic Dokumenter 1 Dasawarsa Berpulangnya Ustadz Rahmat Abdullah (1953-2005)



Rahmat Abdullah telah pergi merengkuh takdir sejarahnya justru ketika dakwah ini sedang memasuki babak baru dengan tantangan-tantangan baru. Menghabiskan seluruh usia produktifnya dalam perjalanan dakwah, Rahmat Abdullah telah meninggalkan ruang kosong yang besar: simbol spiritualisme dakwah kita yang selalu menghadirkan cinta dalam semua kerja dakwah. Para pecinta adalah pemilik ruh yang lembut: lembut seluruh hidupnya, lembut cara perginya. (Anis Matta: Rahmat Abdullah Simbol Spiritualisme Dakwah Kita).

Itulah penggalan tulisan Anis Matta mantan Sekjend & Presiden PKS. Penggalan tulisan tersebut setidaknya memberi gambaran kepada kita tentang siapa sosok ustadz Rahmat Abdullah dan kiprah dakwah beliau semasa hidupnya.

Ustadz Rahmat begitu ia kerap dipanggil murid-muridnya pernah digelari “Syaikh Tarbiyah” (Sang Guru/Pembina) oleh sebuah majalah Islam nasional di tahun 2001, majalah Sabili saat peringatan 20 Tahun Gerakan Tarbiyah di Indonesia yang telah melahirkan komunitas Tarbiyah yang kemudian bertransformasi menjadi partai. Karier politik ustadz Rahmat adalah menjadi Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai, Badan Penegak Disiplin Organisasi Partai dan juga menjadi anggota DPR pada tahun 2004, setahun sebelum beliau wafat tahun 2005.

Ustadz Rahmat Abdullah lahir dari pasangan Abdullah dan Siti Rahmah, sebuah keluarga sederhana yang tinggal di Bilangan Karet Kuningan, Jakarta Selatan. Ia lahir pada tanggal 3 Juli 1953 sebagai anak kedua dari empat bersaudara. Abdullah kecil hidup dalam lingkungan keluarga yang taat beragama. Pada usia 11 tahun, ia sudah berstatus yatim karena ayahnya telah meninggal. Pendidikannya berawal dari didikan orang tuanya yang diikuti pendidikan formal di Perguruan Asy-Syafi’iyah asuhan KH. Abdullah Syafi’I seorang yang dikaguminya.

Di Asy Syafi’iyah Abdullah belajar tentang ushul fiqh, mustalah hadits, psikologi & ilmu pendidikan disamping tetap belajar ilmu nahwu,sharf dan balaghah.Pelajaran yang paling ia sukai adalah talaqqi. Biasanya talaqqi ini dilakukan langsung dengan parra masyaikh (kyai). Dan di Asy Syafi’iyah Abdullah menamatkan sekolah hingga tingkat Aliyah (tingkat menengah) dengan prestasi yang gemilang.

Selepas Aliyah, ia melanjutkan pendidikannya dengan belajar pada beberapa ulama (salah satunya kepada Bakir Said Abduh) sambil menjalankan berbagai aktivitas dakwah dan sosialnya. Di usia 31 Tahun, Abdullah mempersunting seorang muslimah bernama Sumarni. Pernikahannya dilaksanakan pada 17 September 1984. Dari pernikahan itu, pasangan Rahmat Abdullah dan Sumarni dikaruniai 7 orang putra-putri. Shafwatul Fida, Muhammad Thariq Audah, Nusaibatul Hima, Isda Ilahia, Umaimatul Wafa, Majdi HafidzurRahman, dan Hasan Fakhru Akhmadi.

Menurut KH. Kholil Ridwan, ketua MUI Pusat walaupun bukan tamatan Timur Tengah, Abdullah memiliki ilmu yang lebih mendalam dari mereka yang lulusan Timur Tengah. Dan hal lain yang menjadikan Rahmat Abdullah punya nilai tambah adalah karena Rahmat Abdullah orang Betawi asli tetapi memiliki karakter yang berbeda dengan kyai-kyai Betawi pada umumnya. Salah satunya kalau berceramah tidak ada bumbu-bumbunya seperti kebanyakan kyai Betawi saat itu.

Puncaknya adalah pada saat itu Rahmat Abdullah dan KH. Kholil sendiri pernah dikucilkan oleh sebagian kyai Betawi karena dianggap fahamnya berbeda dengan kebanyakan kyai Betawi saat itu. Kalau kyai Betawi itu khan senangnya mengadakan acara shalawatan, maulidan, tahlilan dan rajaban. Tetapi Rahmat Abdullah dianggap tidak mau melakukan. Sehingga dampaknya tidak pernah diundang dalam acara-acara pengajian. Tetapi ternyata berkahnya kita bisa diterima di masyarakat yang lebih luas lagi demikian tutur KH. Kholil Ridwan.

Masih menurut KH. Kholil Ridwan salah satu guru Rahmat Abdullah adalah ustadz Baqir Said seorang kyai Betawi yang pernah nyantri di Gontor dan kemudian melanjutkan kuliah di Mesir. Setelah ustadz Said meninggal karena sakit Abdullahlah yang banyak mewarisi buku-buku ustadz Said dan juga dianggap mewarisi keilmuan dan ide-ide perjuangan ideologi ustadz Said.

Ketekunan dan kerja kerasnya telah mengantarkan Rahmat Abdullah menjadi pemuda pembelajar tanpa menyandang gelar. Ia perpaduan antara khazanah ilmu-ilmu keIslaman klasik dan pandangan Islam modern yang tidak dimiliki oleh banyak orang yang berlabel sang Ustadz. Dunia seni dan sastra sebagai media komunikasi budaya juga merupakan bagian bagi dirinya. Ia gemar membuat produk-produk seni, seperti puisi, esai, butir-butir nasyid dan naskah drama. Oleh karena itulah banyak orang cenderung menjulukinya sebagai seorang “budayawan”.

Selain itu aktivitas Rahmat Abdullah pada saat itu bersama anak-anak muda, seniman bahkan preman adalah membentuk wadah seni teater yang sering dipentaskan dilapangan depan masjid Raudhatul Falah belakang Kedutaan Besar Malaysia. Di tempat ini selain mementaskan teater juga Abdullah sering membawakan syair dan puisi. Ada hal yang menarik pada salah satu pertunjukkan teater pada tahun 1984 di mana saat itu teater drama terbuka dengan judul Perang Yarmurk yang juga turut dimainkan bersama Abdullah Hehamahua dikepung intel karena dianggap subversif terhadap pemerintah berkuasa saat itu rezim Orde Baru. Dan pacsa pementasan Abdullah dipanggil untuk menghadap Kodim.

Pada pertengahan tahun 1980an Rahmat Abdullah mulai bergabung dengan gerakan dakwah Islam yang pada saat itu mulai tumbuh berkembang di Indonesia. Bersama rekan-rekannya Abu Ridho dan Hilmi Aminudin, Rahmat Abdullah mulai merintis gerakan dakwah yang terinspirasi gerakan dakwah Ikhwanul Muslimin yang didirikan Hasan Al-Banna di Mesir. Di komunitas barunya ini kemudian Rahmat Abdullah lebih banyak berkecimpung dan menghabiskan waktunya.

Dengan bermodalkan sepeda motor tua Honda tahun 1966 atau disebut motor chip, ia masuk kampung keluar kampung, masuk kampus keluar kampus, menyebarkan fikrah (nilai-nilai) Islamiyah yang shahih (benar) dan syamil (sempurna). Dan pemikiran-pemikiran tentang Islam yang disampaikan oleh Rahmat Abdullah dan rekan-rekannya itu ternyata mendapat sambutan yang hangat dari berbagai kalangan yang kemudian dikenal menjadi kelompok Tarbiyah menjadi cikal bakal berdirinya PKS.

Kemudian pada tahun 1991 Rahmat Abdullah bersama rekannya Zainal Mutaqien mendirikan majalah Islam yang bernama Sabili. Lalu pada tahun 1993 bersama murid-muridnya Izzudin Abdul Madjid, Mahfudz Abdurahman, Mahfudz Sidiq membangun lembaga pendidikan dan sosial yang berasal dari tanah waqaf yang diberi nama Islamic Center Iqro di daerah Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. Yang hingga saat ini Islamic Center Iqro juga menjadi lembaga yang eksis dan terus berkembang.

Di samping itu Rahmat Abdullah juga melakukan aktifitas lainnya yaitu aktif mengisi ceramah diradio dan televisi. Beliau adalah pengisi rutin rubrik “Titik Pandang Rahmat Abdullah” di Radio Dakta Bekasi setiap Sabtu jam 06.30 WIB. Di radio ini pula Abdullah menggagas rubrik Samara yang disiarkan setiap malam Rabu. Sebagai seorang penulis, beliau aktif menulis buku dan mengisi rubrik di beberapa majalah Islam, seperti majalah Sabili, Islah, Saksi, Ummi, dan Tarbawi. Di majalah yang disebutkan terakhir inilah, beliau secara rutin mengisi rubrik Asasiyat yang kemudian oleh Pustaka Dakwatuna diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul “Untukmu Kader Dakwah” pada tahun 2005. Dan ketika beliau telah meninggal kumpulan tulisan rubrik asasiyat tersebut kemudian dibukukan dengan judul Warisan Sang Murabbi Pilar-Pilar Asasi.

Proses perjalanan dakwah yang panjang akhirnya telah menggiringnya pada keterlibatan dalam dunia politik yang kini ia geluti. Partai Keadilan yang kemudian berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah bagian dari dirinya. Ia salah satu pendiri dari partai yang berbasis Islam intelektual itu. Posisi tertinggi dalam partai –yang pada saat ini diperhitungkan itu– telah dicapainya, sebagai bentuk kepercayaan pendukung terhadapnya yaitu diamanahkan sebagai Ketua Majelis PertimbanganPartai (MPP) dan Majelis Syuro PKS, Rahmat Abdullah pun terpilih sebagai anggota DPR-RI (parlemen) dari daerah pemilihan Jawa Barat I (Kota Bandung dan Cimahi).

Setelah menjadi anggota parlemen aktivitas Rahmat Abdullah pun semakin padat mulai dari mengajar, ceramah di berbagai stasiun radio dan televisi, mengisi seminar-seminar keIslaman di berbagai daerah dan luar negeri, menulis artikel di sejumlah media cetak, disamping melakukan tugas lobby politik dengan berbagai kalangan dan aktifitas DPR dan kepartaian lainnya. Di akhir hayatnya, Abdullah masih sempat mengikuti rapat Lembaga Tinggi PKS, pada Selasa (14 Juni 2005) di Gedung Kindo Duren Tiga Jakarta Selatan yang dimulai ba’daAshar sekitar jam 16.30 WIB.

Tak ada tanda-tanda kalau Abdullah sedang sakit. Namun, ketika akan wudhu untuk menunaikan shalat Maghrib, Abdullah merasakan sakit di sekitar kepalanya. Beliau sempat diperika sdr. Agus Kushartoro, Direktur Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI). Ia dinyatakan terkena stroke. Sempat dibawa ke rumah sakit Triadipa Pancoran, akan tetapi karena peralatannya kurang memadai, beliau lalu dibawa ke rumah sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta. Namun di tengah perjalanan, beliau wafat dalam usia 52 tahun, meninggalkan satu istri (Sumarni) dan tujuh orang anak.

Pemakaman Rahmat Abdullah yang dilakukan di lokasi yang tidak jauh dari kediamannya di Pesantren Iqro, Jati Makmur, Pondok Gede, Bekasi ini, dihadiri ribuan pelayat, seperti pengurus DPP PKS, Ketua Majelis Syuro PKS KH Hilmi Aminuddin, Presiden PKS Tifatul Sembiring, Sekjen PKS Anis Matta, kader-kader PKS, anggota DPR, sejumlah menteri Kabinet Pembangunan Indonesia Bersatu, serta sanak keluarga.

Melihat dan membaca kembali tentang sosok almarhum ustadz Rahmat Abdullah baik kepribadiannya dan peran dakwah dan social kemasyarakatannya semasa hidupnya Empower Indonesia Pictures berkolaborasi dengan Warna Pictures memproduksi film dokumenter tentang ustadz Rahmat Abdullah yang kami beri judul “Rindu Sang Murabbi” sebagai upaya untuk mengenang dan menghidupkan kembali spirit dan semangat dakwah serta perjalanan hidup sosok yang penuh inspirasi ini ke dalam bentuk film Biopic Ustadz Rahmat Abdullah.

Mengcapture spirit dan biografi seorang tokoh besar haruslah dipotret secara real tanpa dilebihkan dan tanpa dikurangi, fakta dan realitasnya harus dipaparkan seideal mungkin, oleh karena itu kami memilih bentuk film dokumenter sebagai sebuah formula yang menurut kami sesuai dan tepat untuk melahirkan sebuah karya audio visual tentang sosok almarhum Ustadz Rahmat Abdullah.

Film Dokumenter Rindu Sang Murabbi mencoba menghidupkan kembali nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan almarhum. Melalui tuturan cerita dari orang-orang terdekat beliau dan orang-orang yang mengagumi pemikiran-pemikiran beliau agar dapat ditarik benang merah realitas potret kehidupan beliau.
Film ini adalah sebuah dokumenter yang tenang, memikirkan kehidupan dan perenungan kehidupan dari nilai-nilai Islam berdasarkan tuturan orang-orang yang dekat dengannya dan kumpulan tulisan dan puisi-puisinya.

Para tokoh/subjek yang terlibat dalam film ini antara lain Ibu Sumarni istri almarhum, Bang Nawawi adik almarhum, Ustadz Izzudin Abdul Madjid murid almarhum dan saat ini sebagai ketua yayasan Iqro, ustadz Ruslan Effendi atau ustadz Lani kawan seperjuangan almarhum, Dr Hidayat Nur Wahid murid almarhum dan saat ini wakil ketua MPR, Ustadz Arifin Ilham dai kondang dan juga murid almarhum, bunda Helvy Tiana Rosa, novelis, sastrawan dan juga murid almarhum.

Sumber: dakwatuna

LPIT THARIQ BIN ZIYAD SAMPAIKAN UCAPAN TERIMA KASIH KEPADA PARA PEQURBAN 1436 H


         (Prosesi penyembelihan hewan qurban, sapi saat sedang ditidurkan sebelum disembelih)

(Bekasi - Intajiyah) LPIT Thariq Bin Ziyad pada tahun ini secara serentak di hari Tasyrik pertama, yakni Jumat 11 Dzulhijah 1436 H telah menyelenggarakan prosesi penyembelihan hewan qurban di beberapa lokasi yang ada.

Peserta qurban yang berasal dari TKIT TBZ, SDIT TBZ Php, SDIT TBZ Jtm, SMPIT TBZ , dan SMA TBZ, telah mempercayakan kepada panitia qurban unit untuk disembelih dan didistribusikan dagingnya di daerah sekitar sekolah.

Dari informasi yang didapat dari panitia unit yang ada di TKIt, SDIT, SMPIT dan SMAIT, jumlah pequrban yang menyalurkan qurbannya ke LPIT Thariq Bin Ziyad, mengalami peningkatan dari tahun lalu (1435 H dengan 19 sapi dan 45 kambing), maka pada tahun ini terdiri dari :

A.168 pequrban qurban (sapi dan kambing) yang bersal dari murid, orangtua murid, guru dan karyawan LPIT Thariq Bin Ziyad plus infaq sadaqoh.

B.Jumlah hewan terdiri Sapi yang berjumlah 24 ekor.

C.Kambing berkumlah 37 ekor.

D.Jumlah paket daging tahun ini mencapai 2.940 bungkus yang tersebar ke internal dan eksternal sekolah.
Pembagian daging qurban sesuai arahan dari direktur LPIT Thariq Bin Ziyad sebagaimana disampaikan oleh manajer pendidikan LPIT Thariq Bin Ziyad, Ibu Sri Khobzah, S.Pd yakni diprioritaskan ke wilayah sekitar sekolah, dan mitra Masjid/DKM yang ada baik internal maupun eksternal.

Semoga Alloh menerima amal ibadah kita, wabil khusus mereka yang telah berqurban di LPIT Thariq Bin Ziyad. sesuai dengan firman Allah SWT :

(لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ)
[Surat Al-Hajj (22) : 37]

"Daging hewan qurban dan itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketaqwaan kamu. Demikianlah Dia menundukannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik" QS. 22:37

Selain menyampaikan ucapan terima kasih kepada pequrban dan panitia di setiap unit sekolah yang ada, manajer pendidikan juga berharap semoga Allah memelihara kebersamaan di LPIT TBZ melalui prosesi ibadah qurban ini serta dapat menjaga semangat berqurban demi jihad dan dakwah di bidang pendidikan.
Allohuakbar !

[mp/dmy]

#ThariqMembaca #ThariqMenulis
follow : @intajiyah www.majalahintajiyah.blogspot.com FB : Majalah Intajiyah
Yayasan dan Lembaga : www.thariq.com 

Panduan Lengkap Seputar Qurban Ibadah Shalat Hari Raya Idul Adha by Divisi Quran dan Pembinaan



Soon the Muslims will celebrate the feast of 'Eid al-Adha, of course, we need to welcome and prepare for these activities are able to provide enlightenment. Resulting in a change of behavior and attitude of the Muslims in daily life.
Here we would like to guide 'Eid al-Adha, may be useful. 

Id Salah law

 Pray 'Id conducted Muslims is:
1. Habit of the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam in melaksanaknnya. Because since the prayer is prescribed in the second year hijriyah, he always execute it until he died
2. Habit of the khulafa ar-Rosyidin after the death of the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam. This shows that the prayer is a very worship prescribed in Islam.
3. Hadith Umm 'Athiyah radliallahu' anha, that he said: We were ordered to take out the new girl puberty, girls seclusion and menstruating people to attend the Eid prayer and Eid al-Adha .... (HR. Bukhari and Muslim )
4. Id prayer is one of the greatest symbols of Islam.

Adab Prayers Feast

1. Bath Day Id
From Nafi ', ​​he said
أن عبد الله بن عمر كان يغتسل يوم الفطر قبل أن يغدو إلى المصلى
that Ibn Umar radliallahu 'anhu ma bath on the day of Eid before going into the field. (HR. Malik and Shafi'i and sanadnya Saheeh)
Al-Faryabi mention that Said ibn al-Musayyib said:
سنة الفطر ثلاث : المشي إلى المصلى , و الأكل قبل الخروج, والإغتسال
"Sunna when Eid is threefold: to walk to the field, eat before going out (to the field), and a shower. (Ahkamul Idain work of al-faryabi and sanadnya classed as saheeh al-Albani)
Note: The bath is permissible to start the feast before or after dawn. It is a strong opinion in the school of Shafi'i and opinion quoted from imam Ahmad. God knows best.
2. Wearing Berhias and Fragrances
From Ibn Abbas, that at some point on Friday, the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam said:
إن هذا يوم عيد جعله الله للمسلمين فمن جاء إلى الجمعة فليغتسل وإن كان عنده طيب فليمس منه وعليكم بالسواك
"Indeed, today is the feast that God made ​​for the Muslims. Anyone who attend Friday prayer, he should bathe. If she had a fragrance, he should use, and you have to brush your teeth. "(HR, Ibn Majah and dihasankan al-Albani)
3. Wear Clothing Most Good
Jabir bin Abdillah, he said:
كانت للنبي - صلى الله عليه وسلم- جبة يلبسها في العيدين , و يوم الجمعة
"The Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam has a cloak which he used when holidays and Fridays." (HR. Ibn Khuzaimah and book Saheeh)
From Ibn 'Umar, he said:' Umar bin Khattab never took the robe of silk purchased in the market. Then he came to the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam: O Messenger of Allah, I bought it, so that you can make up with him when the feast and when welcoming guests. However, the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam rejected because the dress is made ​​of silk. (HR. Bukhari, Muslim, and an-Nasa'i)
Imam as-Sindi said: "... of tradition ornate concluded that when the feast is an ingrained habit among them (the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam and the Companions). And the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam did not deny it, which means the habit is still in force ... (Hasyiah as-Sindy' ala an-Nasa'i, 3: 181)
4. Do not Eat Up Home from Salah Eid with Meat Sacrifice
From Buraidah, he said:
لا يخرج يوم الفطر حتى يطعم ولا يطعم يوم الأضحى حتى يصلى
"The Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam did not leave for the Eid prayer until he eat first, and when Eid al-Adha, he did not eat until the first prayer. (HR. At Turmudzi, Ibn Majah, and classed as saheeh al-Albani)
5. Towards the ground while walking with calmness and submission
From Sa'd radliallahu 'anhu,
أن النبى - صلى الله عليه وسلم- كان يخرج إلى العيد ماشيا ويرجع ماشيا
That the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam came out to the field with his back foot and also by walking. (HR, Ibn Majah, and classed as saheeh al-Albani)
Id Prayer Time
Of Yazid bin Khumair, he said: once Abdullah bin Busr, one of the companions of the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam came out with the community toward the prayer ground. Then he reneged delay priests. He said:
إنا كنا قد فرغنا ساعتنا هذه و ذلك حين التسبيح
"We used to have completed this activity (the prayer) at a time when already allowed the Sunnah prayers." (HR. Bukhari in mu'allaq and Abu Daud with a saheeh sanad)
Description: mean: "sunna prayer time which has allowed": after the passage of time ban for prayer, that is, when the sun rises.
Imam Ibn Qoyim said: The Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam end a menyegerahkan Eid prayer and Eid prayers. While Ibn Umar -the very enthusiastic to join sunah- not out into the field until sunrise. He chanting Takbir since the house until arriving at the field. (Zadul Ma'ad, 1: 425)
Shaykh Abu Bakr al-Jazairi said: The time since the start of the prayer is the sun rising as high as a spear to slip. But more important is the Eid prayers held at the beginning of time, making it possible for communities to resolve and end a sembelihannya implementation Eid prayer approached, making it possible for people to distribute zakat fitrinya. (Minhajul Muslim, p. 278)

Place of Prayer Id

1. When in Mecca
Place of the prayer in Mecca most afdhal is in the Haram. Because of all the scholars always perform the prayer at the Mosque in Makkah haram when.
Imam an-Nawawi said: ... when in Mecca, the most afdhal haram Mosque (to the prayer place) without any dispute among scholars. (Al-Majmoo 'Sharh al-Muhadzab, 5: 524)
2. Outside Mecca
Id prayers appropriate place sunna is field. Unless there are obstacles such as rain or other obstacles.
From Abu Sa'id al-Khudri,
كان رسول الله - صلى الله عليه وسلم- يخرج يوم الفطر و الأضحى إلى المصلى, فأول شىء يبدأ به الصلاة
That the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam out into the field when Eid al-Fitr and Eid al-Adha. The first thing he did was pray Id. (HR. Bukhari and Muslim)
Ibn al-Haj al-Makki said: ... sunna in force since the first related to the Id prayer is done in the field. Because the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam said: "Prayer in the mosque (mosque Nabawi) greater than a thousand times prayer in addition to mosque, except the Mosque unlawful." Although it has the virtue of very large, the Prophet sallallaahu' alaihi wa sallam remained out onto the pitch and leave the mosque. (Al-Madkhal, 2: 438)
Note:
It is advisable for the imam to appoint one to become a priest Id prayers at the mosque for the weak, unable to get out to the field--not, as did Ali radliallahu 'anhu, narrated by Ibn Abi Syaibah

Adab When Heading Field

1. Departing and returning home take a different path
Jabir bin Abdillah radliallahu 'anhu ma,
إذا كان يوم عيد خالف الطريق
That the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam when the feast took a different path (when angry and and return). (HR. Bukhari)
2. It is advisable for the congregation to come on the field early. As for the priests, it is recommended to come rather late to prayer time begins. For he is eagerly not wait. So what happened in the days of the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam with the friends
3. bertakbir since the house until arriving at field
Including the sunnah, bertakbir on the road to the field with a raised voice. As for the women it is advisable not mengeraskannya, so as not to be heard of men. Other proposition:
a. The authentic history of Ibn Umar, that he hardened readings Takbeer on Eid al-Fitr and Eid al-Adha when heading the field, until the priest came. (HR, ad-Daruquthni and al-Faryabi and classed as saheeh al-Albani)
b. History of Muhammad bin Ibrahim, that Abu Qotadah radliallahu 'anhu to leave the prayer and he bertakbir until arriving at the field. (HR, al-Faryabi in Ahkamul Idain)
4. Not to be carrying weapons, unless forced
Of Said bin Jubair, he said: We along Ibn Umar, he suddenly exposed to the cutting edge on the soles of his feet. So I got out of the vehicle and many people see him. There are people who ask: Can we know who has hurt you? Ibn Umar appointed him: You were hurt. Because you carry a weapon on the day that should not be carrying guns ... (HR. Bukhari)
Al-Hasan al-Basri said: They are forbidden to carry weapons in the feast, unless they fear no enemy. (HR. Bukhari in mu'allaq)

Women Menstruation Fixed Departure to Field

Is prescribed for women to leave for the field when the feast with attention-adab adab following:
Perfect to wear headscarves (hijab)
From Umm 'Athiyah radliallahu' anha said:
أمرنا رسول الله - صلى الله عليه وسلم- أن نخرجهن في الفطر والأضحى: العواتق, والحيض, وذوات الخدور, فأما الحيض فيعتزلن الصلاة, ويشهدن الخير ودعوة المسلمين
Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam ordered us to take out the new girl puberty, girls seclusion and menstruating people to attend the Eid prayer and Eid al-Adha .... I asked: O Messenger of Allah, there is that does not have a veil? The Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam said: "Let her sister lend her scarf." (HR. Bukhari and Muslim)

Terms woman Departure to Field

First, Do not wear perfume and clothes that invite attention
Kholid of zaid bin Al Juhani radliallahu 'anhu, the Prophet sallallaahu' alaihi wa sallam said:
لا تمنعوا إماء الله المساجد, و ليخرجن تفلات
"Do not forbid women to go to the mosque. And should they come out in a state tafilaat. "(HR. Ahmad, Abu Daud and classed as saheeh al-Albani)
Description: The meaning of "tafilaat": do not wear perfume and do not reveal winyak genitalia
Secondly, It should not be mingled with men
Umm Athiyah said:
فليكن خلف الناس يكبرن مع الناس
They should walk behind male and bertakbir with them. (HR. Muslim)

Sunna-sunnah When in the Field

1. harden reading takbir until the imam came (start the prayer)
From Nafi ',
كان ابن عمر يخرج يوم العيد إلى المصلى فيكبر ويرفع صوته حتى يأتي الإمام
Ibn Umar that he hardened readings Takbeer on Eid al-Fitr and Eid al-Adha when heading the field, until the priest came. (HR, ad-Daruquthni and al-Faryabi and classed as saheeh al-Albani)
From al-Walid, that he asked al-Auza'i and Imam Malik of hardened takbir when the feast. They said: Yes, it should. Abdullah ibn Umar harden when Eid Takbir until the imam came out. (HR, al-Faryabi)
2. There is no call to prayer and qamat when they wanted to pray
Jabir bin Samurah radliallahu 'anhu, he said:
صليت مع رسول الله - صلى الله عليه وسلم- العيدين غير مرة ولا مرتين بغير أذان ولا إقامة
I pray feast with the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam several times, there is no call to prayer and qamat. (HR. Muslim)
Ibn Abbas and Jabir bin Abdillah said: There is no call to prayer when Eid al-Fitr and Eid al-Adha is not well. (HR. Bukhari and Muslim)
3. There is no sunnah prayer qabliyah and ba'diyah field
Ibn abbas,
أن النبى - صلى الله عليه وسلم- خرج يوم الفطر, فصلى ركعتين لم يصل قبلها و لا بعدها و معه بلال
The Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam to the field when Eid, then pray two cycles. No sunnah prayer before or since. And he along with Bilal. (HR. Bukhari and al-Bayhaqi)
Imam Ibn Qoyim said: The Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam and the Companions, it is not doing any prayer after they arrived in the field. Both before and after the prayer. (Zadul Ma'ad, 1/425)
Note:
1. permissible to pray sunna after arriving home
From Abu Sa'id al-Khudri that the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam did not carry out any sunnah prayer before the prayer. After returning home, he prayed two cycles. (HR, Ibn Majah, and classed as saheeh Al Albnai)
2. The person Id prayers at the mosque, still prescribed tahiyatul mosque to pray, remember the words of the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam:
إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين
: If you enter the mosque then do not sit down to pray two cycles, "explained Sheikh Abdul Aziz bin Baz (Shalatul idain work Sa'id al-Qohthoani)

Procedures for Id prayers

First, sutrah (barring prayer) for priests
From Ibn Umar radliallahu 'anhu ma, that the Prophet sallallaahu' alaihi wa sallam when heading the field at the feast, he commanded to stick a bayonet in front of him, then he would pray facing the object. (HR. Bukhari)
Secondly, Salah 'id two cycles
Umar bin Khotob said:
صلاة الجمعة ركعتان, وصلاة الفطر ركعتان, وصلاة الأضحى ركعتان
"Friday prayers two cycles, the Eid prayer of two cycles, two cycles Eid prayers ..." (HR. Ahmad, an-Nasa'i and classed as saheeh al-Albani)
Third, Salah carried out before the khutbah
From Ibn Abbas radliallahu 'anhuma, he said: I followed the prayer along with the Prophet sallallaahu' alaihi wa sallam, Abu Bakr, Umar, and Uthman radliallahu 'anhu m, they all pray before khhutbah. (HR. Bukhari and Muslim)
Fourth, when the prayer takbir
takbiratul rak ihram at first, and then read the prayer iftitah, then bertakbir seven times. In both cycles, after the takbir intiqal up from prostration, then bertakbir five times
From Aisha radliallahu 'anha that the Prophet sallallaahu' alaihi wa sallam bertakbir when Eid al-Fitr and Eid al-Adha, in the first cycles: 7 times and five times the Takbir Takbir in the second rak, besides Takbir bowing in their respective cycles. (HR. Abu Daud and Ibn Majah, and classed as saheeh al-Albani)
Al-Baghawi said: It is the opinion of the majority of scholars among the companions and those thereafter. They bertakbir when the prayer: in the first seven cycles besides takbiratul rak ihram and in the second five times in addition to takbir rose from prostration. This opinion was narrated from Abu Bakr, Umar, Ali ... radliallahu 'anhu m ... (Syarhus Sunna, 4: 309, quoted from Ahkamul Idain works of Shaikh Ali Al-halabi)
Fifth, lifting up their hands when the Takbir additional
Sheikh Ali bin Hasan al-Halabi said: There is no authentic history of the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam that he raised both hands every-Takbir Takbir Id prayers. (Ahkamul Idain, p. 20)
But there is a history of Ibn Umar, that he raised both hands every additional takbir Id prayers. (Zadul Maad, 1/425)
Al-Faryabi mention the history of al-Walid ibn Muslim, that he asked Imam Malik about lifting the hand when-Takbir Takbir extra. Imam Malik replied: yes, lift up your hands every additional takbir ... (Reported by al-Faryabi and sanadnya classed as saheeh al-Albani)
Description: The purpose of the additional Takbeer: Takbeer 7 times cycles the first and second cycles 5 times.
Sixth, dhikr Takbir on the sidelines of an additional
Sheikh Ali bin Hasan Al halabi said: There is no authentic history of the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam on a particular dhikr between Takbir extra. (Ahkamul Idain, p. 21)
But there is the authentic history of Ibn Mas'ud radliallahu 'anhu, he explained about the prayer:
بين كل تكبيرتين حمد لله و ثناء على الله
On the sidelines Takbir each additional recommended reading tahmid and praise to God. (HR. Bayhaqi and classed as saheeh al-Albani)
Ibnul Qoyim said: mention of Ibn Mas'ud that he describes (in every sidelines takbir, recommended) reads hamdalah, praising God and bershalawat to the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam. (Zadul Maad, 1/425)
Seventh, readings when prayer
After completion of additional takbir, read ta'awudz, reading Al Fatihah, then read the letter with the following combinations:
1. The letter Qaf in the first cycles and the letter Al Qomar in the second rak
2. surat Al-A'la in the first cycles and the letter Al Ghosyiah in the second rak
all of these combinations present in Muslim history, An nasai and At Turmudzi
Eighth, the procedures hereinafter
The procedure for subsequent Id prayers together with other prayers, and there is no difference at all (Ahkamul Idain, p. 22)

People who Missed Prayers Id

People who missed the prayer in congregation then he prayed two cycles.
Imam Bukhari said: Chapter, if the missed the prayer then he prayed two cycles. (Saheeh Bukhari)
Ata 'ibn Abi Rabah said:
إذا فاته العيد صلى ركعتين
If missed the prayer then pray two cycles. (HR. Bukhari)
As for the person who left the prayer deliberately, the opinion of Shaykh al-Islam appears Ibn Taymiyya; he was not prescribed to mengqadla'nya. (Majmoo 'al fatawa, 24/186)
Sermon 'Id
The first, carried out after prayers
From Ibn Umar that the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakr and Umar radliallahu' anhu ma, they all pray before the sermon. (HR. Bukhari and Muslim)
From Ibn Abbas, he said:
شهدت العيد مع رسول الله - صلى الله عليه وسلم-, وأبي بكر, وعمر, وعثمان رضى الله عنهم, فكلهم كانوا يصلون قبل الخطبة
I followed the prayer along with the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakr, Umar, and Uthman radliallahu' anhu m, they all pray before khhutbah. (HR. Bukhari and Muslim)
Second, the preacher stood facing the congregation
from Abu Sa'eed al-Khudri radliallahu 'anhu, that the Prophet sallallaahu' alaihi wa sallam to the field Eid prayer and Eid al-Adha. The first thing he did was pray, then he turned around, stood facing the congregation. While the congregation to remain seated in their ranks. (HR. Bukhari and Muslim)
Third, the priest giving the sermon at high altitudes without pulpit
jabir mentioned in the hadith:
قام النبي - صلى الله عليه وسلم- يوم الفطر, فصلى, فبدأ بالصلاة, ثم خطب, فلما فرغ نزل فأتى النساء فذكرهن
The Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam came when Eid, he began with a prayer and then preaching. Having completed his descent then went to women worshipers ... (HR. Bukhari and Muslim)
Imam Bukhari said: chapter, came on the field (feast) without bringing the pulpit. (Saheeh Al-Bukhari)
Imam Ibn Qoyim said: No doubt, that was not taken from the mosque pulpit (to the field). The man who first issued to the mosque pulpit is Marwan bin Hakam, and deeds he denied ... (Zadul Maad, 1: 425)
Fourthly, including sunna: preacher speak with the rod or the like
From Barra bin Azib radliallahu 'anhu,
أن النبى - صلى الله عليه وسلم- نوول يوم العيد قوسا فخطب عليه
that we give a bow to the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam at the feast and he berkhutbah by holding it. (HR. Abu Dayd and classed as saheeh al-Albani)
Fifth, the sermon begins with reading tahmid
Imam Ibn Qoyim said: The Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam started all his sermon by reading tahmid. And not narrated in a hadith-was that he started his speech at the two-day feast to recite Takbeer ... (Zadul Maad, 1: 425)
Shaykh al-Islam said: Do not narrated from the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam that he started his sermon with besides tahmid both id sermons, sermon istisqa', as well as other sermon ... (Majmoo 'al-fatawa, 22/393)
Sixth, the content of sermons adapted to the current situation
if the Eid sermon when the preacher reminded about Eid and legal details, reminiscent of the primacy of the first 10 days in the month of Dhu al-Hijjah, ordered to be cautious and keep the other obedience. Not appropriate that this sermon used the opportunity to denounce the government or the clergy, accusing them infidels or fasiq, or other sermon themes that can arouse people's emotions and trigger unrest.

Waivers For Not Following Sermon

Abdullah bin Saib radliallahu 'anhu, he said: I attended the prayer with the Prophet sallallaahu' alaihi wa sallam, after the sermon he said:
إنا نخطب فمن أحب أن يجلس للخطبة  فليجلس و من أحب أن يذهب فليذهب
"I will deliver the sermon. Who wants to sit listening to sermons, he simply sat down, and who want to go home sialahkan home. "(HR. Abu Daud, the Nasa and classed as saheeh al-Albani)
Ibnul Qoyim said: The Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam gave relief to those who follow the highway to sit listening to sermons or go home .... (Zadul Maad, 1/425)

Fasting ban on Hari Raya

From Abu Sa'id al-Khudzri radliallahu 'anhu,
أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم- نهى عن صيام يومين يوم الفطر و يوم النحر
The Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam forbade fasting on two days: the day of Eid al-Fitr and Eid al-Adha. (HR. Bukhari and Muslim)
Imam an-Nawawi said: "The scholars have agreed on the prohibition of fasting on the two feast altogether. Both fast it nadzar fasting, sunnah fasting, fasting kaffarah, or other fasting. (Sharh Saheeh Muslim, works an-Nawawi, 8/15)

Fasting ban on Hari Raya

From Abu Sa'id al-Khudzri radliallahu 'anhu,
أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم- نهى عن صيام يومين يوم الفطر و يوم النحر
The Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam forbade fasting on two days: the day of Eid al-Fitr and Eid al-Adha. (HR. Bukhari and Muslim)
Imam an-Nawawi said: "The scholars have agreed on the prohibition of fasting on the two feast altogether. Both fast it nadzar fasting, sunnah fasting, fasting kaffarah, or other fasting. (Sharh Saheeh Muslim, works an-Nawawi, 8/15)


God knows best

Shipments from the Koran LPIT of Development and Tariq Bin Ziyad
(Taken and compiled from various sources)

Copyright @ 2013 MAJALAH INTAJIYAH.